Sosialisasi Anti Bullying di KKG Gugus Rembulan, Perkuat Komitmen Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman

Tanah Merah – Kelompok Kerja Guru (KKG) Gugus Rembulan Kecamatan Tanah Merah kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung terciptanya dunia pendidikan yang sehat, aman, dan ramah anak melalui kegiatan Sosialisasi Anti Bullying dan Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman. Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu, 25 April 2026, bertempat di SDN 016 Kuala Enok, Kecamatan Tanah Merah, dan dihadiri oleh berbagai unsur penting dalam dunia pendidikan.
Kegiatan tersebut dipimpin oleh Ketua Gugus Rembulan, D. Rostiati M. Noer, S.Pd.SD, yang menyampaikan bahwa persoalan bullying atau perundungan di lingkungan sekolah merupakan isu serius yang harus menjadi perhatian bersama. Menurutnya, sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai ruang pembentukan karakter, penanaman nilai-nilai moral, serta tempat tumbuh kembang peserta didik yang harus dijaga keamanan dan kenyamanannya.
Dalam sambutannya, D. Rostiati M. Noer, S.Pd.SD menegaskan bahwa pencegahan bullying tidak dapat dilakukan secara sepihak, melainkan harus melibatkan seluruh elemen sekolah. Guru memiliki peran penting sebagai pendidik sekaligus pembimbing, siswa harus dibina agar memiliki rasa empati dan saling menghormati, sementara pihak sekolah perlu menghadirkan kebijakan dan budaya yang mendukung terciptanya lingkungan yang aman bagi semua. Karena itu, kegiatan sosialisasi ini dinilai sangat penting sebagai langkah awal untuk menyamakan persepsi dan memperkuat komitmen bersama.
Acara ini dihadiri oleh perwakilan guru dan siswa dari sekolah-sekolah dalam lingkup Gugus Rembulan. Turut hadir pula Kepala SDN 016 Kuala Enok, Asep Pernandes, S.Pd., yang menyambut baik pelaksanaan kegiatan ini di sekolah yang dipimpinnya. Selain itu, hadir pula Korwil, pengawas sekolah, serta Ketua PGRI Tanah Merah, Mukhti Heppi, S.Pd. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menambah bobot kegiatan, sekaligus menunjukkan bahwa upaya pencegahan bullying merupakan tanggung jawab kolektif seluruh unsur pendidikan.
Dalam kesempatan itu, Ketua PGRI Tanah Merah, Mukhti Heppi, S.Pd., memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai bahwa pendidikan yang berkualitas tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari keberhasilan sekolah dalam membangun lingkungan yang sehat, aman, dan menghargai martabat setiap anak. Menurutnya, sekolah harus mampu menjadi tempat yang melindungi, bukan justru menjadi ruang yang menimbulkan trauma bagi peserta didik.
Sebagai tuan rumah, Kepala SDN 016 Kuala Enok, Asep Pernandes, S.Pd., mengungkapkan rasa terima kasihnya atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai tempat pelaksanaan kegiatan sosialisasi ini. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung program-program yang berorientasi pada perlindungan dan kenyamanan peserta didik, serta berharap hasil kegiatan ini dapat diterapkan secara nyata di lingkungan SDN 016 Kuala Enok maupun sekolah-sekolah lain dalam Gugus Rembulan.
Sebagai narasumber utama, hadir Dr. Titin Triana, S.H., M.H., yang menyampaikan materi secara mendalam mengenai bullying, mulai dari pengertian, bentuk-bentuk, dampak, hingga langkah-langkah pencegahan dan penanganannya. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan bahwa bullying dapat terjadi dalam berbagai bentuk, seperti bullying verbal, fisik, sosial, maupun psikologis, bahkan saat ini dapat berkembang melalui media digital dalam bentuk perundungan siber. Semua bentuk tersebut, menurutnya, sama-sama berbahaya karena dapat menimbulkan luka yang mendalam bagi korban.
Dr. Titin Triana menjelaskan bahwa korban bullying sering kali mengalami penurunan rasa percaya diri, ketakutan datang ke sekolah, kesulitan bergaul, penurunan prestasi belajar, hingga gangguan emosional yang dapat berdampak jangka panjang. Sementara itu, pelaku bullying juga perlu mendapatkan pembinaan, karena tindakan tersebut sering kali muncul dari kurangnya pemahaman, kontrol emosi, dan pendidikan karakter. Oleh sebab itu, penanganan bullying harus dilakukan secara edukatif, terukur, dan berkelanjutan.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa menciptakan lingkungan sekolah yang aman harus dimulai dari budaya sekolah yang positif. Guru perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan siswa, menanamkan nilai toleransi, menghargai perbedaan, dan membiasakan penyelesaian masalah tanpa kekerasan. Selain itu, sekolah juga perlu menyediakan mekanisme pelaporan yang jelas, sehingga setiap kejadian dapat ditangani dengan cepat, tepat, dan tidak berulang.
Tidak hanya berfokus pada teori, kegiatan sosialisasi ini juga menjadi ruang refleksi bagi para peserta untuk memahami pentingnya peran masing-masing dalam mencegah terjadinya bullying. Para guru diajak untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku siswa, lebih aktif menciptakan suasana kelas yang inklusif, dan tidak menganggap remeh tindakan perundungan sekecil apa pun. Para siswa yang hadir juga diberi pemahaman agar berani berkata tidak terhadap bullying, tidak menjadi pelaku, tidak menjadi penonton yang diam, dan berani melapor jika melihat atau mengalami tindakan perundungan.
Suasana kegiatan berlangsung dengan tertib, hangat, dan penuh antusiasme. Para peserta mengikuti pemaparan materi dengan serius, karena tema yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Diskusi yang terbangun dalam kegiatan tersebut menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya sekolah aman semakin tumbuh, sekaligus menegaskan perlunya kolaborasi yang berkesinambungan antara guru, siswa, orang tua, dan pemangku kebijakan pendidikan.
Melalui kegiatan ini, KKG Gugus Rembulan Kecamatan Tanah Merah berharap lahir langkah-langkah nyata yang dapat diterapkan di sekolah masing-masing. Sosialisasi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal penguatan program pencegahan bullying yang lebih sistematis dan menyentuh langsung kehidupan peserta didik. Dengan demikian, sekolah benar-benar dapat menjadi tempat yang aman, nyaman, ramah, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Ketua Gugus Rembulan, D. Rostiati M. Noer, S.Pd.SD, menyampaikan harapannya agar seluruh peserta dapat membawa semangat kegiatan ini ke lingkungan kerja dan sekolah masing-masing. Dengan adanya kerja sama yang kuat dari semua pihak, ia optimistis budaya anti bullying dapat terus ditanamkan dan dikembangkan, sehingga tercipta generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang baik, empati tinggi, dan mampu hidup berdampingan dengan penuh rasa hormat.
Kegiatan Sosialisasi Anti Bullying dan Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Aman ini menjadi bukti nyata bahwa dunia pendidikan di Kecamatan Tanah Merah terus bergerak untuk menjawab tantangan zaman. Melalui penguatan edukasi karakter dan perlindungan anak di sekolah, diharapkan seluruh satuan pendidikan di bawah Gugus Rembulan dapat menjadi pelopor dalam membangun lingkungan belajar yang bebas dari kekerasan dan perundungan. @Lekno







