Plt KaDisdagtri Inhil: Pelemahan Pasar Global dan Perubahan Geopolitik Pengaruhi Harga Kelapa

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagtri) Kabupaten Inhil, TM Saifullah, menjelaskan bahwa pelemahan harga tersebut tidak dapat dilepaskan dari dinamika pasar global yang tengah berlangsung. Menurutnya, kondisi yang terjadi saat ini merupakan dampak lanjutan dari perubahan struktur perdagangan kelapa dunia.
Ia menyebutkan bahwa pasar internasional saat ini tengah menghadapi ketidakseimbangan antara volume produksi dan tingkat permintaan. Sejumlah negara penghasil kelapa utama dilaporkan mengalami peningkatan produksi dalam waktu bersamaan, sementara kebutuhan pasar global justru tidak tumbuh sebanding. “Produksi meningkat cukup signifikan di beberapa negara, namun permintaan global cenderung stagnan bahkan melemah. Ketidakseimbangan ini secara otomatis menekan harga,” ujar TM Saifullah.
Pergerakan harga kelapa bulat di
Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menunjukkan tren penurunan sepanjang Minggu ke-4 Januari 2026. Komoditas yang selama ini menjadi andalan daerah tersebut kini mengalami koreksi cukup tajam di berbagai titik transaksi. Jika pada awal bulan harga masih berada di kisaran Rp4.700 per kilogram, saat ini harga rata-rata tercatat turun hingga mendekati Rp3.700 per kilogram.
Lebih lanjut, ia menyoroti sektor ekspor sebagai salah satu faktor penentu yang sangat memengaruhi harga di dalam negeri. Negara-negara tujuan utama ekspor kelapa Indonesia, termasuk China, dilaporkan tengah mengalami penurunan daya beli akibat perlambatan ekonomi global. Situasi ini berdampak langsung terhadap volume pembelian dari pasar internasional.
Tidak hanya itu, persaingan antarnegara produsen juga semakin ketat. Negara-negara di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam dilaporkan sedang memasuki periode produksi tinggi, sehingga pasokan kelapa di pasar global menjadi berlimpah. Kondisi tersebut membuat harga cenderung tertekan karena pembeli memiliki banyak alternatif sumber pasokan. “Ketika pasokan dari berbagai negara meningkat dalam waktu yang sama, harga akan terkoreksi. Ini merupakan mekanisme pasar yang tidak bisa dihindari,” jelasnya.
Selain persoalan produksi dan ekspor, faktor geopolitik global turut memberi pengaruh terhadap rantai perdagangan kelapa. Ketidakpastian situasi politik dan ekonomi dunia, fluktuasi nilai tukar mata uang, serta perubahan kebijakan perdagangan di sejumlah negara tujuan ekspor dinilai memperburuk kondisi pasar.
TM Saifullah menambahkan bahwa di tingkat industri dan penampung, pelemahan permintaan menyebabkan terjadinya akumulasi stok. Penumpukan ini membuat daya serap terhadap pasokan baru menjadi terbatas, sehingga harga pembelian di pasar domestik ikut mengalami penyesuaian. “Ketika stok menumpuk dan permintaan belum pulih, industri cenderung menahan pembelian. Akibatnya, harga mengalami tekanan lanjutan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa kondisi penurunan harga kelapa saat ini bersifat struktural dan dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal yang berada di luar kendali daerah. Selama situasi pasar global belum menunjukkan pemulihan yang signifikan, tekanan terhadap harga komoditas kelapa masih berpotensi berlanjut dalam waktu ke depan.




