Indragiri Hilir

Harga Anjlok, Ini Penjelasan Toke Eksportir Kelapa

Tekanan pasar global kembali berdampak pada sektor perkebunan kelapa nasional. Di Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, salah satu sentra kelapa terbesar di Indonesia, perdagangan kelapa bulat tengah mengalami perlambatan seiring menurunnya permintaan dari luar negeri. Kondisi ini menyebabkan harga kelapa bulat turun dan dirasakan hingga ke tingkat petani.

Hendi, Toke yang selama ini fokus untuk ekspor kelapa bulat, menegaskan bahwa harga sepenuhnya ditentukan oleh pasar global. Dalam praktik perdagangan sehari-hari, eksportir tidak memiliki kewenangan untuk menetapkan harga sendiri. “Yang menentukan harga itu pasar global,” ujar Hendi. Menurutnya, harga yang berlaku di tingkat lokal mengikuti harga dari buyer luar negeri. Ketika harga di pasar internasional turun, maka harga beli di daerah penghasil juga ikut terkoreksi secara otomatis.

Selama ini, Hendi tidak pernah jual kelapa ke pabrik perusahaan di dalam negeri, melainkan langsung ekspor ke luar negeri. Menurut Hendi harga kelapanya tidak mengacu ke harga beli dari perusahaan kelapa lokal. “Kami tidak supply ke perusahaan. Langsung ekspor, jadi harga ikut buyer luar negeri,” jelasnya.
Hendi menyebut, salah satu faktor utama yang memengaruhi harga adalah perubahan permintaan dari negara tujuan ekspor, termasuk China. Dalam beberapa bulan terakhir, permintaan dari pasar tersebut cenderung melemah, sehingga volume penjualan menurun dan harga ikut tertekan. “Kalau buyer luar negeri menurunkan harga atau menunda pembelian, di sini langsung turun,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa penurunan harga saat ini lebih disebabkan oleh kondisi pasar global dibanding faktor lokal. Bahkan, di lapangan, ketersediaan kelapa tergolong melimpah. “Sekarang kelapa mudah dicari, tapi susah dijual. Barang banyak, permintaan kurang, harga pasti turun,” ujar Hendi.

Dalam rantai pasok, posisi toke atau eksportir lebih sebagai perantara yang mengikuti harga pasar, bukan pengambil keputusan. Risiko yang ditanggung pun cukup besar. Ketika harga global turun, eksportir bisa mengalami kerugian akibat stok menumpuk atau kontrak ekspor tertunda. “Pernah beli dari petani masih mahal, tapi jual ke buyer harus lebih murah. Kita rugi,” tutup Hendi.

Ia menambahkan, harga kelapa di tingkat petani sangat sensitif terhadap perubahan permintaan ekspor. Jika permintaan global membaik, harga petani akan naik. Sebaliknya, jika permintaan turun, harga langsung terdampak.

Related Articles

Back to top button