Tembilahan - Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) menunjukkan langkah progresif dalam memperkuat ketahanan pangan daerah melalui penyelenggaraan Rapat Koordinasi Penetapan Angka Produksi Tanaman Pangan (Rakorpap-TP) Dinas Pertanian Inhil Tahun 2026. Acara strategis ini menghadirkan tiga narasumber andal dari tingkat provinsi hingga kabupaten guna menyelaraskan langkah, mengevaluasi capaian, serta merumuskan solusi konkret bagi sektor pertanian di Bumi Sri Gemilang. Kehadiran para pimpinan dan pejabat instansi teknis tersebut mencerminkan komitmen kuat lintas sektor dalam mengawal ketahanan pangan berkelanjutan.
Fokus utama pemaparan pertama disampaikan oleh Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Provinsi Riau, Dr. Agus Wahyana Anggara, S.Si., M.Si. Dalam materinya, beliau memaparkan strategi komprehensif pencapaian swasembada pangan di Provinsi Riau dengan menitikberatkan pada analisis sebaran Lahan Baku Sawah (LBS), target Luas Tambah Tanam (LTT), serta optimalisasi wilayah binaan (willbin) penyuluh pertanian lapangan (PPL). Pemaparan ini memberikan panduan taktis bagi daerah dalam mendongkrak produktivitas secara terukur dan berbasis data spasial.
Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang mempertemukan para pemangku kepentingan untuk membedah berbagai kendala teknis di lapangan. Diskusi ini membuka ruang dialog konstruktif antara pemerintah provinsi dan kabupaten guna menyamakan persepsi serta mencari solusi cepat terhadap tantangan pertanian musiman. Suasana antusias terlihat dari keaktifan peserta dalam merespons materi yang telah disampaikan pada sesi awal.
Penyampaian materi berikutnya diisi oleh Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Riau yang diwakili oleh Kepala Bidang Tanaman Pangan, Ferry Admiral, SP. Beliau memaparkan hasil evaluasi LTT Padi serta progres target Perluasan Areal Tanam (PAT) melalui program optimalisasi lahan (Oplah) atau PM-AAS seluas 1.000.000 hektare dengan target produktivitas mencapai 10 hingga 12 ton. Evaluasi ini menjadi cerminan penting untuk mengukur efektivitas program perluasan tanam yang sedang berjalan di berbagai wilayah kabupaten.
Dalam paparannya, Ferry Admiral juga menyoroti kebutuhan spesifik Kabupaten Inhil, di mana petani setempat sangat memerlukan dukungan benih padi varietas Inpari 42 Agritan GSR (PB 32). Varietas unggul ini dinilai sangat cocok untuk mendongkrak hasil panen di wilayah Inhil. Selain itu, keterkaitan dengan data spasial turut dijelaskan melalui sinkronisasi target LTT reguler untuk periode Oktober hingga Desember, disertai langkah-langkah strategis dalam antisipasi perubahan iklim dan mitigasi serangan hama tanaman.
Rangkaian pemateri ditutup oleh pejabat dari Bidang Lahan dan Irigasi Pertanian Dinas Pertanian Inhil, Redi Satriawan, SP. Ia memaparkan perkembangan terkini mengenai Luas Baku Sawah (LBS) di Kabupaten Inhil serta langkah pengamanan kawasan pertanian melalui penetapan Peta Lahan Sawah Dilindungi (LSD). Tercatat seluas 16.200 unit lahan di Inhil telah ditetapkan dalam peta LSD guna menekan laju alih fungsi lahan sawah yang semakin masif.
Perlindungan lahan sawah tersebut diperkuat melalui instrumen hukum yang merujuk pada peraturan dari Kementerian ATR/BPN guna memberikan kepastian hukum bagi petani. Kebijakan ini diharapkan mampu menjaga ketersediaan lahan produktif agar tidak beralih fungsi menjadi peruntukan non-pertanian dalam jangka panjang. Sinergi aturan pusat dan daerah ini menjadi perisai vital dalam mempertahankan status Inhil sebagai salah satu lumbung pangan di Provinsi Riau.
Secara keseluruhan, Rakorpap-TP Dinas Pertanian Inhil Tahun 2026 berhasil merumuskan kerangka kerja yang solid melalui kolaborasi apik dari ketiga narasumber. Perpaduan antara strategi modernisasi pertanian, evaluasi data tanam yang akurat, serta perlindungan lahan berkelanjutan memberikan optimisme besar bagi tercapainya swasembada pangan. Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan berkomitmen untuk mengawal hasil rakor ini hingga tuntas di tingkat petani.