Antisipasi Dampak El Nino, Dinas Pertanian Inhil Intensifkan Monitoring Sentra Pangan
Tembilahan Hulu – Mengantisipasi dampak fenomena El Nino yang menjadi isu nasional dan berpotensi mengganggu produksi pangan, Dinas Pertanian Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) melakukan monitoring langsung ke sejumlah sentra pertanian di wilayah Kabupaten Inhil, Rabu (10/6/2026).
Kegiatan monitoring dipimpin langsung oleh Kepala Dinas Pertanian Inhil, Umar Hamdi, S.Pt., didampingi pejabat fungsional, staf dinas, penyuluh pertanian lapangan, kelompok tani, gabungan kelompok tani (Gapoktan) serta Babinkamtibmas
Monitoring dilakukan di Desa Sialang Panjang, Kecamatan Tembilahan Hulu, dan Desa Kuala Sebatu, Kecamatan Batang Tuaka.
Di Desa Sialang Panjang, rombongan meninjau lahan milik Kelompok Tani Karya Tani yang berada di Dusun Pandan Sari dengan luas tanam mencapai 35 hektare. Kelompok yang diketuai Idris tersebut menggunakan bibit unggul lokal dan mulai melakukan penanaman sejak Februari 2026.
Menurut Idris, dampak El Nino mulai dirasakan para petani dengan menurunnya produktivitas padi secara signifikan. Jika sebelumnya hasil panen mampu mencapai sekitar 5 ton per hektare, kini produksi hanya berkisar 1,5 ton per hektare akibat berkurangnya ketersediaan air dan meningkatnya tekanan lingkungan pada tanaman.
Untuk mempertahankan produktivitas lahan, para petani saat ini melakukan pompanisasi guna memenuhi kebutuhan air tanaman. Idris berharap pemerintah dapat segera menurunkan tim dan mengambil langkah-langkah strategis guna mengurangi dampak El Nino terhadap sektor pertanian di daerah tersebut.
Dari hasil pemantauan lapangan, terlihat kondisi lahan yang mulai mengalami kekeringan dengan permukaan tanah retak-retak, pertumbuhan tanaman yang kerdil, serta berkurangnya kelembapan lahan. Selain itu, karakteristik lahan gambut dengan tingkat keasaman yang rendah turut mempengaruhi perkembangan tanaman pangan.
Tim monitoring juga menemukan indikasi munculnya lapisan pirit pada kedalaman sekitar 10 sentimeter. Kondisi tersebut menyebabkan kualitas tanah menurun dan berdampak pada pertumbuhan tanaman padi. Beberapa varietas padi bahkan mengalami kehampaan bulir akibat kekurangan air pada fase pembentukan malai.
Selanjutnya, rombongan meninjau Kelompok Tani Solobone di Dusun Resettlement, Desa Kuala Sebatu. Kelompok yang diketuai Ismail tersebut mengelola lahan seluas 50 hektare. Produksi padi yang sebelumnya mencapai 3 ton per hektare kini turun menjadi sekitar 1 ton per hektare. Selain faktor kekeringan, tanaman juga sempat mengalami gangguan hama dan kekurangan unsur hara yang memengaruhi hasil panen.
Sementara itu, Ketua Gapoktan Bina Kuala Sebatu, M. Aswad, menyampaikan bahwa wilayah Kuala Sebatu memiliki potensi lahan pangan sekitar 1.300 hektare dengan penggunaan varietas unggul lokal seperti Pandan Wangi dan PB42. Ia berharap adanya dukungan pembangunan sumur bor untuk membantu sistem pengairan selama periode El Nino.
Menanggapi berbagai kondisi yang ditemukan di lapangan, Kepala Dinas Pertanian Inhil Umar Hamdi berharap pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) Provinsi Riau dapat segera melakukan normalisasi dan perluasan parit yang mengalami pendangkalan serta penyempitan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga ketersediaan debit air dan menyelamatkan sekitar 3.500 hektare lahan pertanian di sepanjang aliran Sungai Batang Tuaka sehingga produksi pangan masyarakat tetap terjaga di tengah ancaman El Nino.




